RSS

22 Apr

KasihNya Menjulang Nyata
Yes. 52:13 – 53:12; Mzm. 22; Ibr. 4:14-16, 5:7-9; Yoh. 18:1 – 19:42

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5).

Ibadah Jumat Agung secara khusus merayakan penderitaan dan kematian Kristus di atas kayu salib. Penderitaan dan kematian merupakan peristiwa pahit dan berduka. Bila mengikuti pemahaman ini tentu istilah yang tepat bukanlah “Jumat Agung”, tetapi “Jumat Kelabu”, “Jumat Berduka”, atau “Jumat Ratapan”. Namun istilah “Jumat Agung” bukanlah suatu polesan untuk menyingkirkan realita penderitaan dan kematian Kristus yang pahit dan berduka. Dalam istilah “Jumat Agung” justru mengungkapkan kesaksian Injil Yohanes tentang bagaimana Kristus mengalami penderitaan dan kematian secara bermartabat. Bagi kebanyakan orang sering berpendapat bahwa Yesus wafat karena Dia disalibkan. Yesus wafat karena Dia kehabisan darah dengan tangan dan kaki yang terpaku serta kesakitan yang luar biasa saat tergantung di atas kayu salib. Namun tidaklah demikian pandangan Injil Yohanes. Tuhan Yesus wafat karena Dia menyerahkan nyawaNya. Di Yoh. 19:30 disebutkan “Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya”. Dalam hal ini Injil Yohanes menggunakan kata kerja aktif, yaitu: “Yesus yang menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya”. Artinya Tuhan Yesus wafat secara bermartabat bukan karena Dia dibunuh, tetapi karena Ia memberikan nyawa dengan sikap yang rela. Itu sebabnya di Yoh. 10:17-18, Tuhan Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”. Ucapan Tuhan Yesus tersebut jelas menyatakan bahwa Dia memberikan nyawa atas kehendakNya sendiri dan tidak ada seorangpun yang dapat mengambil atau mencabut daripadaNya. Tuhan Yesus yang menentukan hal kematian dan juga hal kebangkitanNya.

Makna kematian Kristus di kayu salib dulu pernah dianggap sebagai keberhasilan rencana Iblis. Dengan disalibkan, Iblis yakin telah berhasil mengalahkan Kristus sehingga Iblis kembali memiliki hak atas kehidupan manusia. Tetapi ternyata Yesus bangkit dari kematianNya, sehingga dengan kebangkitanNya Kristus mengalahkan Iblis dan merebut kembali umat manusia ke dalam tanganNya. Pandangan teologis yang lain adalah menempatkan Tuhan Yesus sebagai pembayar hutang dosa. Kematian Kristus untuk melunasi dosa-dosa manusia. Manusia pada dirinya tidak mampu membayar hutang dosa-dosanya di hadapan Allah. Seluruh amal, kesalehan, dan kebajikan yang dilakukan oleh manusia tidak dapat membayar hutang dosa-dosanya. Karena itu manusia berada dalam hukuman dan murka Allah. Itu sebabnya dengan darahNya, Tuhan Yesus melunasi seluruh hutang dosa manusia sehingga terjadilah perdamaian dengan Allah. Kalau kita cermati secara kritis pandangan yang pertama terlalu menekankan peran dan kuasa Iblis terhadap kematian Kristus. Karena itu dalam peristiwa Jumat Agung, Iblis mengalami kemenangan. Tetapi akhirnya Iblis dapat dikalahkan dalam kebangkitan Kristus. Sebaliknya dalam pandangan yang kedua hanya menempatkan peran Kristus sebagai pembayar hutang dosa. Manusia gagal untuk memuliakan Allah karena hutang dosa-dosanya yang tidak terbayarkan. Itu sebabnya kematian Kristus dihayati sebagai pelunas hutang dosa manusia. Kedua pandangan teologis tersebut mengandung kebenaran dari satu sisi tertentu, tetapi belum menyentuh hakikat terdalam dari makna kematian Kristus. Karena hakikat terdalam dari kematian Kristus adalah Dia berkenan memberikan dan menyerahkan nyawaNya sebagai manifestasi kasih Allah kepada umat manusia. Kristus memberikan nyawaNya bukan karena Iblis yang berhasil membunuh atau meniadakan hidupNya. Demikian pula Kristus wafat bukan karena tidak menemukan cara lain untuk membayar hutang dosa umat manusia. Tetapi Kristus wafat karena inisiatif dan kehendakNya sendiri untuk memberikan hidupNya. Jadi tujuan utama dari kematian Kristus yang memberikan nyawaNya adalah tercipta suatu pendamaian yang menyeluruh antara Allah dengan manusia. Tepatnya dengan kematianNya, Kristus menyatakan kasih Allah yang paling akbar dalam kehidupan umat manusia. Karena itu dalam kematian Kristus, termanifestasikan kasih Allah yang sungguh menjulang nyata.

Manifestasi kasih Allah tersebut terjadi di tengah-tengah kekelaman dan kekerasan. Kristus wafat di tiang salib walaupun Dia menyerahkan nyawaNya. Salib adalah wujud dari kekerasan dan kekejaman. Namun harus diingat pelaku kekerasan bukanlah Allah, tetapi manusia. Allah di dalam Kristus menerima kekerasan yang terjadi pada diriNya agar dengan kematianNya mampu mengubah kekerasan menjadi pengampunan dan pendamaian. Sebenarnya Allah dengan kuasaNya dapat mematahkan setiap kekerasan yang akan menimpa Kristus. Tetapi demi kasihNya, Allah menyambut kekerasan tersebut dan menanggung luka-luka dan penderitaan dengan hati yang rela. Kristus bersedia tubuhNya dilukai, tetapi hatiNya memancarkan belas-kasih atau bela-rasa kasih Allah. Karena itu dalam peristiwa salib Kristus, Allah telah mematahkan lingkaran rantai kekerasan. Manusia melakukan kekerasan terhadap Allah, tetapi Allah menyambut kekerasan tersebut dengan kasihNya yang mengampuni. Paradigma Allah tersebut bertentangan dengan dunia. Kekerasan dibalas oleh dunia dengan kekerasan, teror dibalas dengan teror, dan kematian dibalas dengan kematian. Karena itu dunia terus memelihara kekerasan, teror dan kematian sehingga kehidupan umat manusia semakin jauh dari damai-sejahtera. Namun di sisi lain juga harus disadari bahwa kita tidak bisa bersikap pasif terhadap perilaku kekerasan, teror dan kematian. Sebaliknya dengan kuasa kasih Allah di dalam Kristus, kita dipanggil untuk memerangi kekerasan, teror dan kematian tanpa terjebak dalam pola yang sama. Kita harus bersikap pro-aktif untuk memerangi kekerasan, teror dan kematian dengan tindakan-tindakan tegas yang dilandasi oleh moralitas yang anti kekerasan. Tepatnya kita dipanggil untuk menciptakan keadilan, pemberdayaan masyarakat dan penegakan hukum. Kadangkala para pelaku kekerasan, teror dan kematian adalah orang-orang yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa. Mereka harus memperoleh terapi dan dikarantinakan agar memperoleh pemulihan.

Hakikat kematian Kristus di kayu salib untuk mematahkan kekerasan. Karena itu dalam kehidupan umat percaya sehari-hari perlu ada kepastian untuk memberlakukan kasih tanpa kekerasan. Kita tidak mungkin membangun kasih dengan kekerasan, apakah melalui kekerasan dalam perkataan ataukah kekerasan dalam perilaku. Apapun bentuk kekerasan yang dilakukan seseorang senantiasa menimbulkan luka-luka batin yang akan tersimpan sepanjang hidup para korbannya. Untuk itu keluarga-keluarga Kristen perlu semakin terbuka apabila mereka mengalami kekerasan fisik atau perkataan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kita sering menganggap tindakan menyembunyikan kekerasan dalam rumah-tangga akan menghilangkan kekerasan. Tetapi faktanya tidaklah demikian. Kekerasan yang disembunyikan ternyata tidak pernah membawa kepada suatu perubahan dan pertobatan. Justru para pelaku akan merasa aman, sebab perbuatan mereka tersebut tidak akan pernah diketahui oleh siapapun selain oleh para korban. Makna Tuhan Yesus menyerahkan nyawaNya supaya kita mengalami kepenuhan hidup. Karena itu tugas kita bukanlah untuk menyerahkan nyawa untuk disakiti dan disiksa, tetapi memelihara dan mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik. Kedudukan kita selaku umat bukanlah penebus dan juru-selamat. Kristus saja yang layak menjadi Penebus dan Juru-selamat. Namun di sisi lain kita boleh menyerahkan nyawa seperti Kristus dalam pengertian berkurban menahan diri dari berbagai keinginan dan nafsu agar kita dapat menyediakan tabungan bagi masa depan anak-anak kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: