RSS

Ketika Sang “Master” Bicara Di Gereja

19 Des

Hujan gerimis tipis tidak menghalangi kami untuk pergi ke Gereja untuk mengikuti kebaktian seperti biasa yang kami ikuti setiap hari minggu. Sesampainya di gereja, ada pemandangan aneh dan tidak seperti biasanya, Para pengurus harian gereja beserta beberapa pelayan berbaris di pintu masuk gereja. Saya dan anak-anak hanya lewat aja ke dalam gereja dengan tanda tanya di hatiku ada apa dengan semua . Lalu saya mengambil tempat duduk yang saat itu masih ada yang tersisa.

Namun tidak berapa lama kemudian, pertanyaan dalam hatiku mulai terjawab ketika iring-iringan mobil mewah memasuki halaman gereja, nampak rombongan turun dan segera masuk ke dalam gereja karena suasana masih gerimis di luar. O… ternyata ada tamu kehormatan nih.. gumamku dalam hati.

Setelah kuselidiki lebih dalam ternyata dia adalah orang yang berjabatan tinggi serta pendidikan tinggi pula (Master). Wow…luar biasa sekali orang yang satu ini, berkat Tuhan sungguh melimpah padanya. Kemudian lonceng gereja pun berbunyi tanda kebaktian akan dimulai.

Aku menikmati kebaktian ini walaupun hanya dikemas sederhana dan sesekali ada kesalahan teknis namun aku bisa merasakan kehadiran Yesus Kristus memenuhi ruangan gereja. Dan tanpa terasa tibalah saatnya Pelayan Tuhan menyampaikan Firman Tuhan yang di awalinya dengan doa, dan sesudah itu tidak lupa beliau menyapa seluruh jemaat : “selamat hari minggu semua’ sapanya, dan disambut serentak oleh jemaat. Dan dia juga menyapa “Sang Master” (julukan yang saya buat untuk tamu kehormatan dalam tulisan ini) dengan sapaan yang sama “Selamat hari minggu buat Bapak”, dan jelas kulihat saat itu “sang master” agak ragu untuk menjawab sapaan dari Hamba Tuhan, dan kemudian diulanginya lagi mengulangi sapaan yang sama dengan berharap “sang master” membalas sapaannya, namun kali ini “sang master hanya diam dan cuek aja.

Firman Tuhanpun disampaikan oleh Hamba Tuhan, dan aku menikmatinya dan aku yakin Tuhan bekerja di dalam diri Hamba Tuhan itu, karena seriusnya aku mendengarka Firman tanpa terasa ternyata kotbah sudah akan berakhir. Kemudian acara terus mengalir hingga kepenghujung kebaktian.

Seuasi kebaktian, seperti biasa jika ada tamu di gereja kami diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, apalagi tamu kali ini adalah master dan berjabatan tinggi. Saya pun mencoba mengikuti arahanya, dan ternyata setelah saya mendengar arahannya, saya jadi bingung. Apakah dia ini benar-benar master atau giman

Karena di setiap pembicaraanya mulai awal sampai akhir, hanya memojokkan saja, termasuk Hamba Tuhan yang menyampaikan Firman Tuhan seolah-olah itulah yang menjadi sasaran dari setiap perkataannya yang berdurasi lebih dari satu jam. Bahkan di dalam arahanya dia meminta agar yang membawakan Firman Tuhan itu harus S2 tuturnya lagi. Terus terang saya juga agak tersinggung karena saya juga pelayan Tuhan di gereja ini, namun saya hanya tamatan SMA. Tapi mudah-mudahan di surga nanti aku bisa jadi Profesor.

Wah…  udah bahaya master yang satu ini, KASIHAN DIA, MUDAH-MUDAHAN TUHAN MENGAMPUNI KESALAHANYA. Yang jelas dia bukan Mater Theologia, mungkin gara-gara itu kali ya.

Yang saya tahu itu kalau di gereja kita itu semua sama, tidak ada perbedaan. Dan saat di gereja itulah kita kembali ke harkat kita semula, tidak ada S1, S2, S3, S teler, profesor, jabatan yang membedakan. Di hadapan Tuhan kan kita semua sama, betul gak.

Dan dipenghujung arahanya, dia memberikan bantuan pembangunan jalan menuju gereja kami yang kebetulan di sana ada juga pembangunan pemerintah yang mungkin membutuhkan sarana jalan ke sana, namun dalam hati kecilku itu tidak berguna karena sudah ada jalan walaupun selebar kurang lebih satu meter namun itu menurut ku sudah lebih dari cukup. Yang paling dibutuhkan gereja saat ini adalah meningkatkan kualitas ibadah yang juga membutuhan biaya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 19, 2011 in Uncategorized

 

One response to “Ketika Sang “Master” Bicara Di Gereja

  1. garama parleto

    Januari 5, 2012 at 11:40 pm

    Kondisi seperti inilah yang banyak merusak kehidupan bergereja, meninggikan satu dari yang lain, padahal mereka hanyalah sandungan untuk yang lainnya. Sungguh menyedihkan. Marilah kita sAling menghargai dan pandanglah semua manusia itu sama.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: